Kenapa Organik?

Secara alamiah manusia dapat hidup sehat, berusia panjang, dan bisa berkarya dengan optimal apabila pola hidupnya selaras dengan alam.Yaitu hidup dengan prinsipmemperhatikan keharmonisan, kelestarian, dan kesinambungan dengan lahan dan alam sekitar yang kaya dengan keragaman hayati.

Beberapa dekade yang lampau cara bertani kita sempat mengacu pada paradigma cara bertani revolusi hijau, yaitu dengan menggunakan pupuk kimia, pestisida / racun untuk hama / gulma / penyakit dan benih transgenik.

Apabila dicermati maka pertanian model revolusi hijau mengakibatkan dampak negatif yaitu:

  1. Terjadi kerusakan lahan pertanian. Lahan menjadi tandus, kesuburan menurun, dantercemar pestisida.
  2. Hama menjadi resisten dan terjadi resurgensi hama.
  3. Pendapatan petani yang rendah karena lahan sempit dan sarana produksi yang mahal.
  4. Semakin banyaknya bahan makanan yang tidak sehat karena tercemar pestisida dan pupuk kimia.

Secara ringkas kerugian dari cara bertani dengan revolusi hijau yaitu :

lahan tandus dan tercemar, pendapatan petani rendah, dan banyak keluarga tidak sehat karena mengkonsumsi sayuran, buah, beras, telur, daging, ikan yang tercemar oleh pestisida.

 Anggota keluarga beresiko terkena  penyakit non infeksius misalnya: diabetus milletus, kolesterol, asam urat, autis, auto imun, tumor dan kanker. Hal ini turut dipicu oleh pola konsumsi yang tidak sehat yaitu pola makan dengan makanan instan dan cepat saji, sering mengkonsumsi pangan / minuman dengan bahan tambahan sintetis yang digolongkan manjadi: bahan pengawet, penyedap rasa, pewarna, pemanis,dan  pengental.

Saat ini makanan lokal dari bahan pangan yang kaya dengan keragaman hayati diabaikan,semakin tersisih dan tidak dikenal lagi oleh generasi muda, seperti ubi suweg, garut, gembil, huwi, talas dan seral seperti jagung pulut, hanjeli/jali, dan sorghum/canthel.

Bahan pangan organik yang bebas pupuk kimia dan pestisida kimia dan bahan pangan lokal yang kaya keragaman hayati memberi harapan baru karena memberi dampak positif yaitu :

  1. Lahan pertanian tetap lestari, subur dan tidak tercemar pestisida.
  2. Pendapatan petani meningkat karena sarana produksi lebih murah dan harga jual lebih kualitas dengan harga lebih menguntungkan.
  3. Setiap keluarga mempunyai kesempatan untuk mendapat kehidupan yang lebih sehat.

Apabila kita memanfaatkan variasi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia maka pola pertanian yang akan datang akan membawa kelestarian, keseimbangan, keanekaragaman, dan keberlanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *